Analisis Usability Aplikasi LINE: Apakah Nyaman Dipakai Sekarang ?
Analisis Usability
A. Pendahuluan
Coba pikir, seberapa sering kamu langsung uninstall aplikasi cuma karena bingung cara pakainya? Atau malah frustrasi karena tombolnya ada di tempat yang nggak masuk akal? Nah, pengalaman kayak gitu sebenarnya bisa dihindari — kalau si pembuat aplikasi benar-benar memperhatikan yang namanya usability.
Salah satu cara terbaik untuk menilai sebuah aplikasi adalah melalui usability testing — proses mengamati bagaimana pengguna nyata berinteraksi langsung dengan aplikasi, bukan sekadar mengandalkan pendapat atau kesan subjektif mereka. Karena sebagus apapun kesan seseorang terhadap sebuah aplikasi, kalau dia nggak bisa menyelesaikan tugasnya dengan mudah, berarti ada yang perlu diperbaiki.
Usability testing sendiri bukan sekadar minta orang mencoba aplikasi lalu bertanya "gimana rasanya?". Ini adalah metode pengujian yang terstruktur, di mana peneliti merancang skenario tugas yang mencerminkan aktivitas nyata pengguna, menetapkan kriteria keberhasilan yang jelas, dan mengamati langsung bagaimana pengguna berinteraksi dengan aplikasi tanpa bantuan apapun.
Dalam prosesnya, pengguna diminta menyelesaikan sejumlah tugas nyata — misalnya mencari fitur tertentu, melakukan pembelian, atau memulihkan akun. Selama pengujian berlangsung, peneliti mengamati di mana pengguna kebingungan, di mana mereka salah langkah, dan bagian mana yang paling bikin frustrasi. Peserta juga kadang diminta untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya secara langsung, supaya peneliti bisa memahami pola berpikir pengguna saat mengambil keputusan.
Semua temuan ini kemudian dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi perbaikan yang konkret, diurutkan berdasarkan tingkat keparahan masalahnya — sehingga tim pengembang tahu mana yang harus diprioritaskan lebih dulu.
references: Usability First - Methods - Usability Testing | Usability First
B. Deskripsi Aplikasi
Di antara banyaknya aplikasi chat yang pernah meramaikan layar smartphone kita, LINE punya tempat yang agak berbeda — bukan sekadar alat kirim pesan, tapi bagian dari momen-momen yang rasanya sayang kalau dilupakan begitu saja. Mulai dari rebutan stiker gratis, main game bareng teman di dalam aplikasi, sampai notifikasi yang rasanya nggak pernah berhenti bunyi. LINE pernah jadi bagian dari keseharian banyak orang, dan itu bukan hal kecil.
LINE adalah aplikasi pesan instan yang pertama kali diluncurkan pada Juni 2011 oleh NHN Japan — menariknya, aplikasi ini lahir bukan dari rencana bisnis yang matang, melainkan sebagai respons darurat saat gempa bumi besar melanda Jepang pada tahun yang sama. Ketika infrastruktur telekomunikasi lumpuh, perusahaan membutuhkan cara lain untuk berkomunikasi, dan dari situlah LINE lahir. Tak lama kemudian, aplikasi ini dirilis untuk publik dan langsung disambut antusias — terutama berkat desainnya yang unik, fitur stiker yang lucu dan bisa dikustomisasi, serta kemampuannya menggabungkan komunikasi personal dan bisnis dalam satu platform.
Di Indonesia, LINE sempat menjadi salah satu aplikasi chatting paling populer sebelum WhatsApp mendominasi. Banyak orang terpikat dengan fitur-fiturnya yang terasa segar di zamannya — mulai dari stiker ekspresif, video call, hingga game yang terintegrasi langsung di dalam aplikasi. Namun seiring waktu, penggunaan LINE di Indonesia perlahan menurun dan beralih ke WhatsApp yang lebih simpel dan ringan.
Cerita berbeda terjadi di Jepang. LINE bukan sekadar aplikasi chatting biasa di sana — ia sudah menjadi bagian dari infrastruktur digital sehari-hari. Hingga Agustus 2024, LINE mencatatkan 97 juta pengguna aktif bulanan di Jepang, mencakup lebih dari 78% dari total populasi negara tersebut. Bahkan di tahun 2025, LINE tidak hanya digunakan untuk komunikasi personal, tapi juga terintegrasi dengan layanan pembayaran, berita, belanja online, hingga akun resmi pemerintah — menjadikannya bukan sekadar aplikasi, tapi utilitas digital yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang.
Itulah yang membuat LINE menjadi subjek analisis yang menarik. Di satu sisi, aplikasi ini nyaris terlupakan di Indonesia. Di sisi lain, ia masih sangat relevan dan terus berkembang di negara asalnya. Pertanyaannya — apakah dari sisi usability, LINE masih nyaman dan layak digunakan di tahun sekarang?
references: Sempat jadi Aplikasi Chatting Favorit, LINE Hancur Karena Fiturnya Sendiri?
C. Analisis Usability
Disini saya akan melakukan Analisis Usability dengan melihat beberapa aspek berikut sebagai acuan penilaian:
- Efektivitas
- Efesiensi
- Kepuasan
dan juga
✔ apakah aplikasi mudah digunakan
✔ apakah navigasi jelas?
✔ apakah user flow sederhana?
✔ apakah user merasa nyaman?
✔ apa kekurangan aplikasi?
✔ apa saran perbaikannya?
1. Efektivitas
Dari sisi efektivitas, LINE bisa dibilang berhasil menjalankan fungsi utamanya sebagai aplikasi komunikasi. Fitur-fitur inti seperti chat, voice call, dan video call semuanya berjalan dengan baik tanpa hambatan berarti. Pengguna bisa menyelesaikan tujuan utamanya — yaitu berkomunikasi — dengan lancar. Begitu pula dengan fitur tambahan seperti stiker yang justru menjadi salah satu daya tarik terbesar LINE. Stiker-stiker dengan maskot khasnya masih sangat identik dengan aplikasi ini dan tetap relevan hingga sekarang.
Satu catatan kecil soal efektivitas adalah performa aplikasinya di perangkat dengan RAM 4GB ke bawah yang terasa agak lambat saat membuka aplikasi. Meskipun tidak menghalangi pengguna untuk tetap bisa berkomunikasi, waktu loading yang lebih lama bisa sedikit mengganggu pengalaman awal penggunaan.
2. Efisiensi
Dari sisi efisiensi, hasilnya cukup beragam. Menu-menu utama seperti daftar chat, log panggilan, dan berita tersusun dengan jelas dan mudah ditemukan di halaman utama. Untuk langkah-langkah dasar seperti mengirim pesan, membuat grup, hingga melakukan video call pun terbilang cukup cepat dan nggak berbelit.
Namun ada satu hal yang cukup mencolok — saat pertama kali membuka aplikasi, pengguna tidak langsung masuk ke halaman chat, melainkan ke halaman beranda yang berisi pengumuman, daftar teman, dan berbagai layanan LINE lainnya. Bagi pengguna yang memang ingin memanfaatkan semua fitur LINE, ini mungkin bukan masalah. Tapi bagi yang hanya ingin chat, ini terasa seperti satu langkah ekstra yang kurang perlu.
Selain itu, banyaknya fitur seperti LINE News, LINE Bank, dan pengaturan tema yang bisa di custom jadi apa aja seperti anime, aesthetic, bahkan yang lucu-lucu dengan hanya membeli nya menggunakan koin atau pakai versi gratis line nya namun tidak banyak pilihan yang membuat aplikasi ini terasa cukup berat dengan fitur tersebut — baik secara tampilan maupun performa. Pengguna yang sudah terbiasa dengan aplikasi chat kompleks mungkin akan cepat adaptasi, tapi bagi yang mengutamakan kesederhanaan, antarmukanya bisa terasa agak overwhelming di awal.
3. Kepuasan
Secara keseluruhan, pengalaman menggunakan LINE cukup menyenangkan. Tampilan visualnya nyaman di mata, ikon dan menu mudah dikenali, dan navigasi antar halaman terasa natural. Stiker-stiker khas LINE juga menjadi nilai tambah tersendiri — selain lucu, stiker ini sudah menjadi bagian dari identitas aplikasi yang bikin suasana chatting jadi lebih hidup dan ekspresif.
Namun ada satu fitur yang terasa kurang relevan, yaitu LINE News. Sebagai aplikasi yang pada dasarnya adalah sarana komunikasi, kehadiran fitur berita rasanya kurang esensial dan justru menambah "keramaian" yang tidak terlalu dibutuhkan. Fitur-fitur lain seperti daftar layanan LINE masih bisa ditoleransi karena tidak terlalu mengganggu alur utama penggunaan.
Pada akhirnya, LINE adalah aplikasi yang cocok bagi pengguna yang memang mencari pengalaman komunikasi yang kaya fitur. Tapi bagi yang menginginkan aplikasi chat yang ringan, cepat, dan to the point — LINE mungkin bukan pilihan pertama, terutama dengan bobotnya yang cukup berat di perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah.
✔apakah aplikasi mudah digunakan
Secara keseluruhan, LINE adalah aplikasi yang mudah digunakan. Semua elemen UI tertata di tempat yang sesuai dan bisa diakses tanpa hambatan. Pengguna baru sekalipun tidak akan butuh waktu lama untuk memahami cara kerja aplikasi ini karena tata letaknya yang intuitif dan konsisten.
✔ apakah navigasi jelas?
Navigasi di LINE terasa sangat mulus. Perpindahan antar menu berjalan dengan lancar, ikon-ikon yang digunakan mudah dikenali, dan alur berpindah dari satu halaman ke halaman lain terasa natural. Tidak ada momen di mana pengguna harus bingung mencari jalan balik atau kebingungan berada di halaman mana.
✔ apakah user flow sederhana?
Alur penggunaan LINE untuk menyelesaikan tugas-tugas utama tergolong simpel dan cepat. Mulai dari mencari kontak, mengirim pesan, hingga membuat grup — semuanya bisa dilakukan dalam beberapa langkah saja tanpa perlu melalui proses yang berbelit. Ini membuat pengalaman berkomunikasi di LINE terasa efisien meski aplikasinya memiliki banyak fitur.
✔ apakah user merasa nyaman?
Dari sisi kenyamanan, LINE memberikan pengalaman yang menyenangkan. Tidak ada elemen yang terasa mengganggu atau membuat pengguna tidak betah. Kombinasi antara tampilan visual yang bersih, navigasi yang mudah, dan fitur stiker yang khas membuat penggunaan LINE secara keseluruhan terasa nyaman dan enjoyable.
✔ apa kekurangan aplikasi?
Ada dua kekurangan yang cukup terasa. Pertama, performa aplikasi yang kurang optimal di perangkat mid-range ke bawah — dengan RAM 4GB ke bawah, loading aplikasi terasa lebih lambat dari yang seharusnya. Kedua, LINE tidak memiliki fitur semacam status atau story seperti yang ada di WhatsApp, padahal fitur tersebut cukup berguna untuk berbagi informasi atau momen kepada banyak orang sekaligus tanpa harus mengirim pesan satu per satu.
✔ apa saran perbaikannya?
Saran utama yang bisa diberikan adalah optimasi performa aplikasi, terutama untuk perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah. LINE adalah aplikasi yang punya banyak keunggulan, sayang kalau pengalaman penggunanya terhambat hanya karena masalah teknis yang sebenarnya bisa diperbaiki. Dengan membuat aplikasi lebih ringan dan responsif di berbagai jenis perangkat, LINE berpotensi menjangkau lebih banyak pengguna — terutama di negara berkembang seperti Indonesia di mana mayoritas pengguna smartphone masih menggunakan perangkat kelas menengah.
D. Kekurangan Sistem
Meskipun LINE secara umum berfungsi dengan baik, ada beberapa masalah usability yang cukup terasa saat menggunakannya.
Yang pertama adalah masalah performa. LINE tergolong aplikasi yang cukup berat untuk sebuah platform komunikasi. Pada perangkat dengan RAM 4GB ke bawah, waktu loading saat membuka aplikasi terasa lebih lambat dari yang seharusnya. Hal ini tentu bisa mengganggu pengalaman pengguna, terutama di situasi di mana kita perlu membuka aplikasi dengan cepat.
Kedua, halaman beranda yang muncul pertama kali saat membuka LINE bukan halaman chat, melainkan halaman yang berisi pengumuman, daftar teman, dan berbagai layanan LINE lainnya. Bagi pengguna yang tujuan utamanya hanya ingin chatting, ini terasa seperti hambatan kecil yang sebenarnya bisa dihindari.
Ketiga, kehadiran fitur LINE News di dalam aplikasi terasa kurang relevan. Sebagai aplikasi yang inti utamanya adalah komunikasi, menambahkan fitur berita justru membuat aplikasi terasa lebih penuh dan berat tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sebagian besar penggunanya.
Keempat, banyaknya fitur yang tersedia membuat tampilan awal LINE terasa cukup padat dan overwhelming — terutama bagi pengguna baru yang hanya ingin menggunakan LINE untuk keperluan chatting sehari-hari.
E. Saran Perbaikan
Dari kekurangan yang ditemukan, ada beberapa saran yang bisa menjadi prioritas pengembangan LINE ke depannya.
Yang pertama adalah optimasi performa aplikasi. LINE perlu dioptimalkan agar bisa berjalan lebih ringan dan responsif, terutama di perangkat dengan spesifikasi menengah ke bawah. Mengingat banyaknya pengguna smartphone di negara berkembang seperti Indonesia yang masih menggunakan perangkat kelas menengah, langkah ini bukan hanya soal kenyamanan — tapi juga soal aksesibilitas. Aplikasi yang lebih ringan berarti lebih banyak orang yang bisa menikmati LINE tanpa hambatan teknis.
Yang kedua adalah penambahan fitur status atau story. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk berbagi informasi, momen, atau hal-hal penting kepada banyak orang sekaligus tanpa harus mengirim pesan satu per satu. Selain memperkaya pengalaman berkomunikasi, fitur ini juga bisa membuat LINE terasa lebih relevan dan kompetitif di tengah aplikasi-aplikasi komunikasi lain yang sudah lebih dulu memiliki fitur serupa.
Yang ketiga adalah pembaruan tampilan UI. Secara visual, tampilan LINE saat ini terasa cukup biasa dan kurang mencerminkan desain modern yang banyak diterapkan aplikasi-aplikasi masa kini. Refresh tampilan yang lebih segar dan kekinian bisa memberikan kesan yang lebih baik, terutama bagi pengguna baru yang pertama kali mencoba aplikasi ini.
Kesimpulan
Setelah menganalisis LINE dari berbagai aspek usability, satu hal yang bisa ditarik sebagai benang merah adalah bahwa LINE sebenarnya masih sangat relevan sebagai platform komunikasi. Fitur-fitur utamanya berjalan dengan baik, navigasinya mudah dipahami, dan ciri khasnya — terutama stiker dengan maskot ikoniknya — masih menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditandingi aplikasi lain.
Namun di sisi lain, LINE terasa seperti aplikasi yang belum sepenuhnya mengikuti perkembangan zaman. Tampilannya yang kurang modern, performa yang kurang optimal di perangkat mid-range, hingga absennya fitur-fitur yang kini sudah menjadi standar di aplikasi komunikasi lain membuat LINE terkesan tertinggal — terutama di mata pengguna muda yang terbiasa dengan aplikasi yang lebih segar dan dinamis.
LINE sebenarnya punya fondasi yang kuat. Bukan aplikasi yang buruk, justru sebaliknya — ia adalah aplikasi yang baik, tapi butuh pembaruan besar untuk bisa kembali dilirik. Kalau LINE bisa membenahi sisi desain, performa, dan menambahkan fitur-fitur yang lebih relevan dengan kebutuhan pengguna masa kini, bukan tidak mungkin aplikasi ini bisa kembali bersaing dan mengingatkan orang-orang mengapa LINE layak untuk digunakan.
F. ScreenShoot Aplikasi
Berikut beberapa hasil ScreenShoot aplikasi Line di tahun 2026:
Foto di atas merupakan tampilan awal setelah membuka aplikasi Line, bisa dilihat bahwa kita disuguhkan dengan tampilan beranda yang sangat ramai dan sangat tidak familiar sebagai aplikasi sarana berkomunikasi, yang harusnya menunjukkan tampilan list chat tapi menunjukkan kumpulan beberapa fitur yang tersedia di Line seperti Daftar Teman, Layanan Line, Rekomendasi Stiker dll. dan sesuai dengan acuan penilaian Efisiensi, kalau ini sangat tidak efisien apabila kita langsung ingin chattingan tapi harus berpindah menu terlebih dahulu dari beranda ke menu chat.
Foto Di atas adalah bar navigasi antar menu dari aplikasi Line yang terdapat menu Beranda, Chat, News, dan panggilan.
Foto di atas merupakan tampilan menu chat setelah berpindah dari beranda, bisa dilihat bahwa tampilan nya sangat sederhana dan tidak banyak fitur yang ditunjukkan di halaman menu chat. dan di halaman chattingan nya pun juga sangat sederhana dan kesan nya sangat elegan, rapi dan tidak terlalu menumpuk banyak fitur.
Foto di atas merupakan tampilan menu chattingan saat memilih menu stiker, bisa dilihat bahwa stiker nya merupakan ciri khas dari aplikasi line itu sendiri yang mempunyai daya tarik nya sendiri. walaupun di aplikasi seperti WhatsApp stiker ini juga bisa kita pakai dengan meng-custom nya sendiri di whatsapp, namun memakai stiker ini sesuai dengan tempat stiker itu berada menjadi rasa nyaman tersendiri.
Di atas merupakan tampilan news yang dipilih dari bar navigasi, bisa dilihat kalau isi halaman ini adalah kumpulan beberapa berita yang sedang hangat atau trend dibahas di indonesia. seperti yang sudah saya bahas di point Efisiensi, kekurangan aplikasi, dan kekurangan sistem, bahwa menurut saya fitur ini hanya menambah berat dari aplikasi ini, karena siapa sih yang mau baca berita di aplikasi untuk berkomunikasi dengan orang lain ?, kalau memang kita ingin tau berita yang sedang terjadi tinggal kita buka Google lalu cara berita yang sedang diperbicarakan. namun memang ada juga orang yang tidak suka pindah pindah aplikasi dan dia lebih memilih untuk kalau bisa 1 aplikasi bisa semuanya. jadi ini hanya tergantu preferensi. tapi tetap menurut saya sebagai aplikasi sarana komunikasi, fitur ini tidak terlalu berguna.
Nama: Wahyu Al Adam - 8020240081




Comments
Post a Comment